AUGH!

Baru kali ini aku kesal sampai bikin pening kepalaku.

Pengalaman pertama interview lanjutan formal yang kurang mengenakkan.

Senior yang suka berkomentar.

Bahkan, sudah beberapa jam lalu aku menyelesaikan sesi interview, tapi masih kesal juga hatiku.

Sudah aku berdoa dengan sungguh-sungguh berkali-kali, tapi tetap saja kesal.

Kubaca lagi istighfar di dalam hati berulang-ulang kali, berhenti, lalu kubaca lagi. Tapi nafasku masih menghela berat.

Di atas roda dua, aku pacu gas motor matikku membelah jalanan yang panas dan penuh sesak dengan roda dua dan empat, bahkan becak!

Sambil mengomel-ngomel di balik masker dan helm SNI-ku, aku berdoa semoga aku tak menabrak kendaraan di samping kiri-kanan dan depanku.

Berkali-kali aku lihat spion kiri-kanan, memainkan gas dan rem, meliuk sana-sini, mengisi celah yang bisa kulewati dengan tungganganku agar bisa tiba di sudut kursi empuk tujuanku secepat yang aku bisa.

Akhirnya, dua buah donat yang manis dan segelas besar ice thai tea sudah hadir di meja depanku. Kurebahkan badanku di sofa panjang untuk tiga orang yang kumonopoli sendiri dengan barang-barangku. Dua buah gadget, sebuah buku, tas bali, dan badanku yang letih juga hatiku yang masih terbakar emosi.

Tak puas aku menelepon kawanku di seberang smartphoneku yang memberi respon enggan untuk mendengar cerita kesalku, kubuka aplikasi chatting grup yang berisi saudara-saudaraku, keluarga gejeku dan kutumpahkan emosiku di sana.

Manjur.

Mereka memang saudara-saudara terkece dan tergeje yang pernah aku kenal.

Sambil menandaskan dua donut di depanku, jari-jemari tanganku bergantian memegang donat dan layar smartphone.

Senyumku merekah, tawaku tertahan di udara sekejap (behave karena sedang di tempat umum, aku nggak bisa tertawa lebar terbahak-bahak, bisa dibilang gila nanti! Hahaha), membaca balasan-balasan dua saudara gejeku.

Setelah puas tertawa, kubuka kembali halaman-halaman Rantau 1 Muara yang baru mulai aku baca setelah bertahun-tahun tersimpan rapi di rak buku dengan plastik segelnya yang rapi, reward untukku setelah penghabisan dosa sewinduku usai.

Kulirik jam hitam berbahan karet pemberian ibuku, sudah mulai sore rupanya. Waktunya menandaskan ice thai tea dan segera beranjak pulang. Kandung kemihku juga mulai berontak, ingin buang air di toilet.

Oase sesaat itu rupanya masih belum cukup mengusir rasa kesalku.

Baru kali ini, aku kesal sampai kepalaku pening dan membuatku enggan untuk melanjutkan chapter selanjutnya Rantau 1 Muara.

Ketika kesal melanda, membuka buku rasanya membuat kepalaku semakin pening. Padahal sudah kurapal lagi doa-doa kepada Tuhan dan kalimat-kalimat istighfar.

Ah, Tuhan masih menguji hati milikNya ini.

Ah, KESAL!

Karena itu aku menuliskan kekesalanku, biar hilang.

Semoga.

Thought via Path

Semakin lama aku hidup, aku jadi tahu.
MANUSIA itu lucu.
Ketika lidahnya sibuk mengumpat, membicarakan orang lain, mencari-cari alasan, di saat yg sama hatinya tengah merapal doa.
Doa selamat dunia akhirat kepada Tuhan.
Dan kenyataan yg lebih lucu, aku juga manusia.

#fiksi_mini_sore – Read on Path.

Thought via Path

Dering telepon membangunkan tidurku.
“Sore mbak. Besok jam 2 siang bisa datang?” suara di seberang telepon.
“Iya,” jawabku sambil mengurut-urut kepalaku yang pening.
Besok.
Iya besok.
Dua jadwal sudah tertulis rapi di dalam jadwalku.
√ Stasiun kereta api
√ Office (to be?)

#fiksi_mini_sore – Read on Path.

Siang2 di-masupin grup chat beginian.
Mak, anakmu disuruh nikah sama temen-temennya.
Wkwkwkwk – View on Path.